Kekhawatiran Perang Dunia ke-3: 14 pesawat kargo AS dan Jerman tiba di Israel, Trump akan segera putuskan sikap terkait konflik Israel-Iran.
Eskalasi konflik antara Israel dan Iran terus berlanjut.
Konflik terbuka antara Israel dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Meski sinyal perang semakin menjadi-jadi pun kian nyata.
Hal ini dipicu dengan adanya dukungan dari Amerika Serikat (AS) dan Jerman untuk Israel.
14 pesawat kargo militer dari Amerika Serikat dan Jerman mendarat di Israel.
Pesawat kargo itu datang membawa peralatan tempur dalam jumlah besar.
Langkah ini memicu kekhawatiran internasional.
Spekulasi muncul soal kemungkinan eskalasi militer besar-besaran di Timur Tengah—bahkan dikhawatirkan sebagai sinyal awal pecahnya Perang Dunia 3.
Menurut laporan Middle East Monitor dan Anadolu Agency (19/6/2025), pengiriman tersebut terdiri dari kendaraan militer, amunisi, dan logistik tempur lainnya.
Pesawat-pesawat ini mendarat di berbagai pangkalan udara utama di Israel, termasuk dekat Tel Aviv.
Kementerian Pertahanan Israel mengonfirmasi bahwa pengiriman tersebut merupakan bagian dari “operasi logistik besar-besaran” guna memperkuat kesiapan tempur pasukan pertahanan Israel.
Mereka menyebut langkah ini sebagai “dukungan vital dari sekutu” di tengah meningkatnya ancaman keamanan nasional.
Menurut Jerusalem Post, peralatan itu dibutuhkan untuk mengisi ulang stok persenjataan Israel yang mulai menipis akibat operasi militer yang berlangsung terus-menerus di Gaza dan wilayah utara dekat perbatasan Lebanon.
Tension Regional Semakin Meningkat
Pengiriman logistik militer dalam skala ini datang di saat ketegangan antara Israel dan Hizbullah di Lebanon meningkat tajam.
Iran, sebagai sekutu utama kelompok tersebut, telah berulang kali mengancam akan membalas jika Israel terus melancarkan serangan ke wilayah-wilayah yang mereka lindungi.
Ahli geopolitik memperingatkan bahwa keterlibatan terbuka AS dan Jerman dalam mendukung Israel secara logistik bisa mempercepat eskalasi konflik.
"Langkah ini bisa dilihat oleh Iran dan kelompok perlawanan regional sebagai bentuk deklarasi keterlibatan langsung," kata analis pertahanan dari Middle East Institute, Firas Elias.
Dukungan Lama, Ancaman Baru
AS dan Jerman selama ini dikenal sebagai sekutu utama Israel, khususnya di bidang pertahanan.
Bahkan pada Oktober 2023 lalu, AS sempat mengirimkan kapal induk ke Mediterania Timur sebagai bentuk dukungan penuh terhadap Israel setelah serangan mendadak dari Hamas.
Namun skala dukungan pada kesempatan kali ini disebut-sebut lebih besar dan terstruktur dengan baik, mengingat situasi yang dianggap semakin tidak stabil.
Reaksi Dunia Internasional
Beberapa organisasi HAM menyoroti pengiriman senjata ke Israel, terutama setelah peningkatan jumlah korban sipil dalam konflik di Gaza.
Human Rights Watch menyerukan penghentian pasokan senjata hingga Israel tunduk pada hukum humaniter internasional.
Namun demikian, hingga saat ini baik pemerintah AS maupun Jerman belum memberikan keterangan resmi mengenai jenis peralatan yang dikirimkan dan tujuan spesifiknya.
Trump Mengumumkan 2 Minggu Lagi
Gedung Putih atau White House di Washington DC, Amerika Serikat, mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump memiliki waktu dua pekan ke depan untuk membuat keputusan sikap Negeri Paman Sam dalam konflik Israel-Iran.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada wartawan berdasarkan kutipan pernyataan Presiden Trump.
"Berdasarkan fakta bahwa ada kemungkinan besar negosiasi yang mungkin atau mungkin tidak terjadi dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan pergi atau tidak dalam dua minggu ke depan," kata Leavitt dikutip dari Al Arabiya, Jumat (20/6/2025).
Leavitt mengungkap dalam pengarahan rutin, Trump berminat untuk mengejar solusi diplomatik dengan Iran. Namun prioritas utamanya tetap, yakni memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Sekretaris Pers Presiden Trump menyebut bahwa setiap kesepakatan harus mengandung larangan pengayaan uranium oleh Teheran dan menghapus kemampuan Iran untuk membangun senjata nuklir.
“Presiden selalu tertarik pada solusi diplomatik... dia adalah kepala pembuat perdamaian. Dia adalah presiden perdamaian melalui kekuatan. Jadi jika ada kesempatan untuk diplomasi, presiden akan selalu mengambilnya,” ungkap Leavitt.
"Tapi dia tidak takut untuk menggunakan kekuatan juga," lanjut dia.
Leavitt menolak menyatakan bahwa Trump mau mencari otorisasi kongres untuk serangan terhadap Iran. Washington lanjutnya, tetap yakin bahwa Iran tidak pernah lebih dekat untuk menciptakan senjata nuklir.
Dia mengatakan bahwa Trump telah diberi informasi tentang operasi Israel pada hari Kamis, dan Iran akan menghadapi konsekuensi serius jika menolak untuk menghentikan produksi senjata nuklir.
Sementara itu tiga diplomat AS mengatakan bahwa utusan khusus Trump Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah berbicara melalui telepon beberapa kali sejak Israel memulai serangannya minggu lalu.
Keduanya berbincang lewat telepon beberapa kali untuk menemukan solusi diplomatik dari krisis tersebut.
Berdasarkan keterangan diplomat yang enggan disebutkan namanya, Iran tidak mau kembali ke negosiasi, kecuali Israel menyetop serangannya.
Diplomat regional yang dekat dengan Teheran menyatakan bahwa Iran memiliki fleksibilitas terkait masalah nuklir jika AS bersedia mendorong Israel untuk menghentikan perang.
Diplomat eropa mengatakan Araghchi berbicara kepada Witkoff bahwa Iran siap kembali ke pembicaraan nuklir dengan syarat Israel harus berhenti menggunakan bomnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Gedung Putih Sebut Trump akan Putuskan Sikap Terkait Konflik Israel-Iran dalam Dua Pekan Mendatang dan Sinyal Perang Dunia 3? 14 Pesawat Kargo AS dan Jerman Tiba di Israel, Angkut Peralatan Militer