
Pria Misterius Terekam CCTV Intip Kamar Kos Diplomat Sebelum Tewas
Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang menunjukkan aktivitas di indekos seorang diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan, beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat sosok pria misterius yang terekam jelas hanya mengenakan sarung dan berjalan mondar-mandir pada tengah malam sebelum korban ditemukan tewas.
Pria tersebut diduga merupakan penjaga kos bernama Siswanto, sesuai narasi yang disampaikan oleh TvOneNews. Keberadaannya memicu spekulasi luas dan memperkuat dugaan bahwa ada hal yang tidak biasa di balik kematian korban. Rekaman video tersebut menampilkan pria tersebut pada pukul 00.27 WIB, 8 Juli 2025.
Pria yang memiliki tubuh gempal ini tampak memakai sarung tanpa baju dan menyimpan kain di bahunya saat melintas di lorong. Gerakannya mencurigakan, karena ia berjalan ke ujung lorong, lalu kembali lagi. Penjaga kos itu juga tampak sibuk memegang ponsel saat bolak-balik di depan kamar Arya Daru.
Selain itu, dalam rekaman lainnya, terlihat pria tersebut mengintip ke arah kamar korban. Namun, tidak ada lanjutan video yang mengungkap gerak-gerik pria tersebut lebih jauh.
Sementara itu, satu jam sebelumnya, tepatnya pukul 23.26 WIB, Arya Daru sempat terekam kamera CCTV keluar dari kamar dengan posisi baju tidak dikancing. Belakangan diketahui, penjaga kos Siswanto sempat ditelepon oleh Pita, istri Arya Daru sekitar pukul 00.00 WIB. Pita menelepon Siswanto agar mengecek kondisi Daru di kamar kosan.
Diduga kala itu Pita cemas karena tidak berhasil menghubungi Daru. Menurut jurnalis Kompas TV, Nico Anggriawan, penjaga indekos mendapatkan telepon dari istri korban untuk memeriksa korban yang menyewa kamar 105. Pada jam 12 malam tersebut, tidak ada respon akhirnya penjaga kos memutuskan untuk nanti memeriksa kamar korban pada pagi hari.
Baru pada keesokan harinya, Siswanto mengecek kamar Daru dan menemukan Daru sudah tak bernyawa. Diungkap polisi, istri korban sempat bercerita ke penyidik bahwa ia terakhir berkomunikasi dengan Daru di jam 9 malam. Istri korban sendiri yang berhubungan terakhir di jam 21.00 WIB, itu di Jogja.
"Sampai saat ini tidak ada hanya menanyakan kabar, enggak ada (perbincangan jauh dari korban kepada istrinya)," tambah Kompol Rezha Rahandhi.
Arah CCTV Bergeser
Polda Metro Jaya menanggapi asumsi publik terkait rekaman CCTV aktivitas terakhir Arya Daru Pangayuan beredar dan ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pergeseran arah kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) yang memperlihatkan area depan kamar kos diplomat Kemlu itu.
Rekaman CCTV itu memperlihatkan ADP keluar kamar membawa kantong plastik hitam, lalu kembali masuk, pada Senin (7/7/2025) pukul 23.24–23.26 WIB. Sementara itu, dalam rekaman CCTV lain yang memperlihatkan penjaga kos bersama seorang pria saat membuka paksa kamar, pintu dan jendela kamar tampak jelas pada Selasa (8/7/2025) pukul 07.37–07.40 WIB.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi mengatakan, penyelidik masih mendalami yang berkaitan dengan hal tersebut. "TKP itu ada perimeternya juga. Untuk membuat peristiwa itu menjadi utuh, tentunya akan diurut, nanti dari ringnya diperbesar lagi, sehingga ceritanya menjadi utuh, menjadi sebuah fakta yang tidak terbantahkan," ujar Ade Ary.
Janji Kasus Terungkap Dalam Seminggu
Arya Daru Pangayunan ditemukan tewas di kosnya pada Selasa (8/7/2025). Pria berusia 39 tahun itu ditemukan dengan wajah penuh tertutup lakban hingga seluruh kepala. Kapolda Metro Jaya, Irjen Karyoto, menyatakan bahwa pihaknya masih mempelajari berbagai bukti yang ada untuk memastikan penyebab kematian tersebut.
"Bukti-bukti yang ada perlu dipelajari oleh forensik ya, baik CCTV kemudian hasil autopsi dan juga termasuk digital," ucapnya. Jenderal bintang dua itu pun berharap bahwa proses ini dapat selesai dalam waktu sekitar seminggu.
"Digital itu dari laptop dan lain-lain. Mungkin seminggu lagi selesai, nanti ada kesimpulan, insyaAllah mudah-mudahan seminggu lagi selesai," tuturnya. Selain itu, visum juga sedang dipelajari oleh penyelidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Ia menambahkan, pihaknya akan terus menggali informasi dari saksi-saksi yang ada. Namun, dalam kasus ini, visum dan hasil forensik akan menjadi fokus utama, dan bukan hanya keterangan dari saksi. Karyoto juga menjelaskan, proses digital forensik, seperti pelacakan jejak elektronik dari ponsel atau perangkat lainnya, akan membantu dalam menemukan petunjuk lebih lanjut terkait kejadian tersebut.
"Terkait dengan status korban yang merupakan seorang diplomat, ia menegaskan, pihaknya tetap akan menangani kasus ini dengan pendekatan yang komprehensif."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar